Sunday, October 12, 2014

Seluk-beluk Denmark

Memang, saya baru dua bulan berada di negara yang mendapat predikat negara Terbahagia Sedunia. Tapi setidaknya sudah ada sekilas gambaran seperti apa hidup dan tinggal di Denmark, khususnya Aarhus. Dari pengalaman pribadi, dari bincang ringan dengan teman-teman yang bukan penduduk lokal dan tinggal di sini. Beberapa di antaranya adalah:


1. Senang sekali warna gelap. Entah kenapa, sejauh mata memandang, hanya ada hitam, abu-abu dan sedikit krem. Biru masih boleh. Selebihnya? Hampir tidak ada, Mungkin ada hubungannya dengan cuaca yang mudah sekali berubah, sehingga warna gelap lebih tersamarkan.

2. Cinta produk lokal. Ucapkan sampai jumpa dengan Zara, Bershka, Stradivarius, Asos, Pull & Bear serta merek-merek lain yang menjamur di Indonesia. Selebihnya? Hanya merek-merek lokal. Ya, H&M, Vera Moda, C&A, Only, adalahnya pengecualian, karena memang banyak di negara Eropa lainnya. Tapi bagi yang kantong terbatas karena beasiswa seperti saya, bakal senang dengan nomor 3.

3. Barang Bekas. Di sini, mereka sadar betul dengan pentingnya daur ulang, bahkan untuk urusan furnitur dan barang-barang rumah tangga. Hampir di setiap pojok ada toko barang bekas yang menjual pakaian, furnitur, dan sebagainya. Saya termasuk yang sukses bawa pulang jaket (50kr) , sweter (10kr), sepatu boots (60kr). Jumlah toko barang bekas atau genbrug rasanya lebih banyak ketimbang jumlah resto cepat saji. Jika di tepi jalan menemukan lemari, karpet, atau apapun, silakan dibawa pulang. Barang tersebut sengaja ditinggal si pemilik untuk diambil oleh siapapun yang membutuhkan. Bahkan, ada grup di FB yang mempromosikan hal ini. "Lemari pakaian ada di tepi Jl. xxx" atau "Tiga pasang sepatu ukuran 37 bisa diambil di jl xx". 

4. Hidup Sehat. Ya, sejauh mata memandang, hanya ada satu Burger King dan dua Mc. Donalds. Ingin KFC? Silakan ke Copenhagen. Lagipula, harganya bisa selangit. Ini terasa jika pergi untuk beli makanan. Di swalayan, harga sayur dan buah terbilang murah. Jauh dengan makanan dan minuman yang bisa dibilang "kurang sehat", seperti chips, minuman soda, kopi, dan sebagainya. Sengaja pemerintah tetapkan pajak lebih untuk sajian ini. Belum lagi bicara transportasi. Sekali naik bus adalah 20 kr (sekitar Rp44.000). Bisa lebih murah jika beli klippekort (140 kr atau Rp290.000) alias kartu klip untuk 10 x perjalanan. Biaya transportasi yang tinggi adalah cara pemerintah agar warganya lebih sering menggunakan sepeda! .

5. Pajak. Ya, salah satu yang bikin bingung ketika tiba di sini adalah urusan pajak. Negara ini menerapkan pajak yang sangat tinggi untuk warganya, termasuk uang beasiswa saya. Ya, wajar, karena dengan pajak tinggi ini, maka tingkat kehidupan warga jadi lebih baik: biaya dokter dan sekolah gratis dengan fasilitas negara, seperti taman dan jalan raya dirawat dengan sangat baik.

6. Hygge. Ini adalah istilah yang sulit diterjemahkan, namun sangat digemari oleh warga Denmark. Intinya, hygge ini adalah istilah mereka untuk kumpul-kumpul bareng dengan orang terdekat; santai, bisa sambil minum dan menghangatkan diri. 

7.  Warga Denmark yang cenderung tertutup. Entahlah, tapi selama dua bulan ini, saya lebih sering "hygge" dengan sesama Indonesia atau international students. Warga Denmark cenderung tertutup, kaku, dan sudah punya kelompoknya sendiri, apalagi mereka yang memang dari Aarhus. Cukup sulit untuk menembus "tembok" itu, cuma katanya mereka adalah teman yang setia... kita lihat apakah saya suatu saat berhasil untuk "menembus" tembok tersebut. Oh, namun mereka tidak tertutup soal tampil apa adanya (polos tanpa pakaian) saat di pantai!   

8. Cuaca yang gila. Anginnya luar biasa, dan ini masih autumn! Hahaha. Matahari sangat jaarang. lebih sering abu-abu, hujan, dan ya... angin. 

9. Administrasi yang ribet. Pengalaman pribadi saat buka rekening Bank D**ske! Pada suatu hari, pergilah saya ke cabang yang depan City Hall. Setelah antre, dibilang kalau cabang itu hanya terima transaksi cash, tidak bisa buka rekening. Saya diminta untuk pergi ke yang dekat katedral. Jalanlah saya ke sana. Ketika sampai, hanya ada satu orang antre di belakang saya. Lalu saya hampiri meja tellsurat perjer dan bilang mau buka rekening. Ibu ini menjawab, "Saya sedang sibuk dan teman-teman saya pun sibuk. Tolong datang lusa saja." Kaget luar biasa! Baru sekali alami hal ini. Lalu saya kembali ke kampus dan ternyata ada cabang dekat sana. Saya hampiri, berikan nomor CPR (semacam nomor ID) dan katanya surat-surat akan dikirim ke alamat rumah. Hah, tidak sampai 10 menit dan 3 cabang!

Beberapa hari kemudian, surat pun datang. Semua perjanjian dalam bahasa Denmark, tentunya! Nah, ketika saya cek web bank tersebut (iya, bisa login dengan CPR number), surat perjanjian yang sama tertera, versi pdf. Ya sudah, saya registrasi saja lewat web bank! Ketika esoknya saya ke cabang di kampus, dibilang kalau registrasi via internet tidak komplet dan disarankan untuk berikan hardcopy. Esok harinya lagi, saya pun datang untuk kasih surat. Oh ternyata beberapa hari kemudian saya tahu kalau keduanya sukses dan alhasil saya punya dua nomor rekening! Hebat ya? Butuh 3 minggu untuk buka rekening bank, saudara-saudara!

10. Akan saya lanjutkan.





No comments:

Post a Comment